ALI FIKRI

Ali Fikri. Lahir di Mandailing Natal, 1 Pebruari 1977. Guru SDS 054 Muhammadiyah Hutabangun. 2007-2011: Redaktur Pelaksana Buletin Dinas Pendidikan Kab.&nbs...

Selengkapnya
DAN TAKDIR ITU PUN TERJERAT

DAN TAKDIR ITU PUN TERJERAT

DAN TAKDIR ITU PUN TERJERAT

Malam itu, kau memintaku datang ke sebuah tepi masa yang menua. Kau tulis undangan rahasia yang sengaja kau titipkan lewat senja. Secarik asa beraroma dendam dalam sampul rana kuterima. Kau juga menuliskan beberapa bait harapan dengan air mata. Juga beberapa baris tentang hati yang dicabik-cabik duka. Sayat itu pilu, begitu kau mengahirinya.

Kekasihku telah melukaiku, tolong pungut ceceran hatiku! Ujarmu parau saat ambang sore terpaksa mengantarkanmu padaku. Tapi kepingan mana yang harus kucari lebih dulu? Aku tidak terlalu kuat mengutuhkan hatimu. Kau tahu itu. Aku juga terlalu rapuh untuk sandaran luka itu. Dan kau pasti tak mau tahu. Sebab, seberapa besar pun cintaku padamu saat kukatakan dulu, tetap saja tak mendapat tempat di hatimu. Aku tak bisa memilikimu, karena kau bukan takdirku, tapi jangan pisahkan aku darimu, teruslah mencintaiku! Begitu yang selalu kau katakan dulu. Tapi tak mengapa buatku, asalkan tetap bersamamu walaupun selalu merasa seperti kehilangan sejak berabad-abad yang lalu. Beberapa potongan hati harus senantiasa disiapkan untuk dikorbankan. Mungkin tak pernah kau tahu dan tidak akan kuberi tahu bahwa seluruh hatiku telah kugadaikan pada takdirmu.

Senja kian memudar, malam menjemput. Air matamu kian deras sesaki hampaku yang tak memberi pilihan selain terjebak dalam takdirmu. Satu persatu sayatan hatimu kususun kembali dalam temaram yang tertatih itu. Kusayat juga sebagian hatiku untuk menutupi beberapa bagian hatimu yang dihilangkan kekasihmu.

“Apakah masih ada bagian hatimu yang tersisa untuk menutup kehilangan hatiku berikutnya?” tanyamu pilu.

Tak perlu kau takutkan itu, karena hatiku akan selalu tumbuh untuk mengutuhkan luka hatimu.

Malam terus merangkak. Kau menatapku khidmat. Bibirmu yang lembam bergetar seperti ingin menceritakan sebaris panjang kesedihan. Tapi, kau memilih diam, memendam semua kenangan yang mungkin pahit itu. Masih kucium serpihan sisa bahagia luruh, tercecer lewat napasmu yang perih. Dalam diammu, kuberanikan diri mengintip sunyi dihatimu lewat gurun gersang di matamu. Sebuah oase di sana sepertinya hanya menyisakan setetes bening. Dan itu kemudian menghanyutkanmu pada sepi yang tak bertepi, dimana asa dan angan hanya sebentuk gumpalan takdir yang beku. Hanya tetesan terakhir pilu.

Tak ada lagi yang tersisa untuk kau yakini bisa mengutuhkan hatimu selain aku. Hal itu kau jelaskan lewat tatapanmu. Bahkan matahari yang kemudian kau benci itu pun telah enyah dari sisimu. Sementara bulan telah lama pucat terselubung cipratan darah dari luka hatimu. Malam hanyut. Alam bisu.

Aku terkejut saat perlahan kau angkat tanganmu menunjuk mataku. Aku tak mengerti. Tapi, aku senang melihat secuil mimpi hinggap di wajahmu. “Ada meteor melintas di matamu!” ujarmu parau. Senyum kaku di garis bibirmu retak. Sengaja tak kukedipkan mata agar kau terus melihatnya. Aku tau kau menginginkan itu, tapi kau tak mau meminta. Kau biarkan saja bintang itu melintas ditelan langit, Lalu menjerit histeris dengan mata yang tetap kering. Bintang itu takkan kembali.

Lama kau menangis tanpa suara setelah ahirnya kau letih. Mendadak hatiku meronta hendak membunuh seluruh dukamu. Seperti tak rela membiarkanmu berkutat dengan luka parah itu. Tapi, tetap saja tertahan oleh takdirmu. Aku sering lupa kalau aku hanya terjerat dalam takdirmu.

Separuh malam. Kau coba bangkit untuk menanyakan apakah embun sudah turun. Aku hanya menggeleng. Seperti kesal, kau rentangkan tanganmu merogoh malam. Berharap bisa menemukan sesuatu untuk cadangan air mata, karena nestapamu telah kering. Malam kian larut bersama rasa yang tenggelam. Laramu terus menyiksaku. Beberapa debaran menikam jantungku. Berusaha membunuhku. Kau menatapku tajam.

“Maukah kau membangun mimpiku?” pintamu.

Jangan tanyakan itu! Karena nuraniku tak pernah alpa untukmu. Bahkan andai kau mau, dari dulu aku bersedia melekatkan takdir baru. Tapi tak mungkin tentu.

“Cinta tak harus bertaut. Rasa tak perlu berpagut. Akan selalu ada media buat hati untuk saling mengisi” ungkapmu lirih.

Ya, aku lupa lagi kalau hanya terjerat di takdirmu. Seandainya saja pun kau mencari takdir baru, tentunya itu bukan aku. Karena takdirku hanya sekedar terjerat dalam takdirmu. Lalu dengan gontai kau pergi meraba tepi malam. Mengeja lara di setiap jengkal kelam. Berkali-kali kau berusaha untuk tak tumbang. Tapi, luka hatimu terlalu membebanimu. Sesaat kau berdiri setelah ahirnya ambruk di penghujung malam itu. Tak bergerak lagi. Hatiku luruh serupa bunga ilalang tertiup angin. Aku berlari mengejarmu, menuntunmu berdiri. Setengah memelukmu, kau berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum. Lalu tiba-tiba seperti terkejut kau melototi mataku sesaat, kemudian melihat sekeliling langit seperti mencari sesuatu, menatap mataku lagi, lalu langit lagi, sampai ahirnya kau berhenti di mataku sambil tersenyum ketir.

“Aku melihat fajar di matamu,” ujarmu heran.

Aku tersenyum ragu. Kujelaskan saja bahwa malam kelam ini akan usai bagimu. Pagi akan tiba dengan jutaan embun. Itu sudah cukup bagimu membangun harapan baru. Dukamu akan berahir. Namun, kau menggelengkan kepala tak percaya. Sambil menunjuk langit bagian timur, kau kembali lunglai. Aku semakin tak mengerti sebelum kau jelaskan bahwa merah ungu itu hanya ada di mataku.

“Kalau begitu tataplah mataku,” tegasku.

“Tidak!” sanggahmu tegas.

Segera kulepaskan pelukanku.

“Kau hanya terjerat di takdirku. Tapi, tak bisakah kau lebih erat lagi memelukku?” pintamu dengan tangisan yang kering itu.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali