ALI FIKRI

Ali Fikri. Lahir di Mandailing Natal, 1 Pebruari 1977. Guru SDS 054 Muhammadiyah Hutabangun. 2007-2011: Redaktur Pelaksana Buletin Dinas Pendidikan Kab.&nbs...

Selengkapnya
Gadis Pencinta Mayat (potongan 2)

Gadis Pencinta Mayat (potongan 2)

“Gadis seusiamu takkan bisa membedakan itu, Inang! Karena bentuk cinta dan bayangannya taklah berbeda sama sekali. Cinta hanya dapat kau kenali ketika kau telah terluka. Dan saat kau pahami, kau akan membenci keduanya. Karena cinta dan bayangan itu pasti akan kau bilang sama saja”.

“Kalau begitu berikan aku kesempatan untuk untuk terluka, Ayah! Agar aku mengenalnya cinta dan bayangannya dengan baik,” pinta gadis itu.

Ia memang gadis yang cerdas. Karena itu, setiap argumen yang digunakan ayahnya untuk menyerangnya dapat ia patahkan. Tak ada jalan lagi bagi ayahnya selain menerima permintaan putri sangkibung itu. Tapi, hingga takdir itu tiba, masih ada upaya terkahir untuk menyelamatkan putrinya.

Melalui prosesi adat yang alot, keluarga pemuda itu datang melamar si gadis. Awalnya tidak ada masalah. Tinggal satu tangga lagi, mereka akan duduk di atas mahligai. Tapi tangga itu terlalu tinggi. Pemuda itu takkan sanggup melewatinya. Sekuat apapun cinta yang ia bawa tetap saja tak mampu menaklukkan syarat dari calon mertuanya. Ya, sebongkah emas. Tuhor ataupun mahar itu tentu mustahil. Tapi cinta yang besar tentu takkan pernah tunduk pada siapa pun dan syarat apa pun. Pemuda sederhana itu tetap menantang ultimatum calon mertuanya dengan sederhana juga.

“Berikan aku waktu, Tulang!” pintanya.

Begitulah disuatu pagi. Dari bawah pohon nangka di tepi jalan kehutan itu. Suara tulilla mendayu. Nada duka mengurai embun. Tembang lara menusuk pagi. Gadis itu berlari di antara ilalang. Kain dan ujung selendangnya basah oleh embun. Ia menyongsong suara tulilla yang selalu mencabik hatinya itu. Air matanya berderai saat berada dihadapan kekasihnya.

“Ijinkan aku pergi, Sayang!” ujar pemuda itu lirih. “Cinta kita takkan pernah takluk pada gunung emas. Kalau hanya sebongkah, itu bukan tandingan mimpi kita. Simpan dulu air matamu, sisakan sedikit untuk rindu kita. Aku pasti kembali, Sayang!” tegasnya.

Buru-buru gadis itu menyeka matanya. Lalu ia tersenyum kaku. Pemuda itu mendekatinya, perlahan ia memegang jemari lentik kekasihnya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali